Rabu, 28 Januari 2009

Israel.. Menggila lagi...

Setelah genjtan snjata, dan vacum slma beberapa hari untk menyeran...g, israel akhrnya... Melakukan serangan.. Lagi dengan alasan Hamas telah melakukan serangan dahulu, dan menewaskan seorang tentara Zionis Israel..

Dengan bekal alasan itu Israel mulai melakukan serangan lagi, bahkan Petani yang sedang menggarap pun... Dibunuh oleh tentara Zionis, itu menunjukkan bahwa israel memang benar2 kejam... Dan senang melkukan peperangan... Itu akan menambah citra buruk Israel dimata Internasional....

SAVE PALESTINE

Minggu, 25 Januari 2009

GERHANA...

Adalah fenomena alam yang terjadi...

Baru2 ini, dapt dilihat dr selruh nusntara...

Gerhana ini akan terjadi kurang lebih 30 lg, jd syang klo dlewatkan....

Gerhana matahari cincin/anular ini sebaiknya jngn dlhat dngn mata tlnjang...

Gunakanlah pelindung mata untk melindungi mt anda, karena radiasi, ultr violt, snr br,nya dapat mmbtkan mata sekian...

Sabtu, 24 Januari 2009

GAZA TONIGHT


MICHAEL HEART

SONRata TengahG FOR GAZA

"We will not go down"



Message from Michael

Dear friends,

I have been overwhelmed by the warmth and the friendship you have all given me in response to my song for Gaza, "We Will Not Go Down". I am doing my best to go through your numerous messages, emails and comments, and ask you to kindly bear with me until I am able to do so. Please forgive me if I am not able to respond to each and everyone of you; but please also know that I really appreciate your messages.

My original intention to donate proceeds from the sale of the MP3 to charity has been complicated by technical matters; therefore, I have decided to make the song available free of charge. I would like to request that after
downloading the song from this page, you kindly donate directly to a charity or an organization dedicated to alleviate the suffering of the Palestinian people. Worthy of note is UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East), which has been helping Palestinian refugees since their dispossession in 1949. Please click here to donate through them: http://www.un.org/unrwa/

Thank you for your continued encouragement of my work as a musician, for your purchases of my CD, and for spreading the song, the video and the message as you have been doing. I am grateful for every demonstration of support I have received from you, and for every thought and prayer that has gone to the people of Gaza.


Sincerely,

Michael Heart

Click the Button Below to download "We will not go down" Song for Gaza MP3




Scroll down for lyrics


WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009


A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight



All Music and Content Copyrighted. All rights reserved. © 2009


Rabu, 21 Januari 2009

Obama, Bush, dan Gaza

Pada musim kampanye pemilu Amerika Serikat (AS) Barack Husein Obama berkunjung ke Israel. Saat itu, empat bulan sebelum pemilihan presiden, Obama berpidato di sebuah permukiman Yahudi dekat Jalur Gaza, "Jika seseorang melemparkan roket atau granat ke rumah saya, di mana dua anak saya sedang tidur lelap, saya sebisa mungkin akan menghentikan aksi tersebut. Saya berharap orang-orang Israel melakukan hal yang sama."

Tepat satu setengah bulan setelah Obama terpilih jadi Presiden AS, 19 Desember lalu, Otoritas Hamas di Jalur Gaza menyatakan kesepakan perdamaian dengan Israel bubar. Pejuang Hamas yang tertindas Israel meluncurkan roket ke pemukiman Yahudi di kota-kota yang berdekatan dengan Jalur Gaza. Merasa mendapatkan "dukungan" Obama yang pernah disampaikan ketika kampanye itu tadi, Israel pun membalas serangan roket pejuang Hamas.

Empat warga Israel yang tewas akibat roket Hamas dibalas dengan serangan udara besar-besaran, sehingga menewaskan lebih dari sekira 700 warga Palestina, dan ribuan lainnya luka-luka. Itulah balasan yang tak setimpal: kematian 4 orang dibalas dengan kematian 700 orang? Adakah cara lain untuk membalas roket Hamas tersebut? Mantan penasihat Dewan Keamanan AS, Zbigniew Kazimierz Brzezinski, mengungkapkan, serangan besar-besaran Israel ke Gaza adalah kesalahan besar.

Tindakan Israel itu, kata Brzezinski, hanya akan mengundang kecaman dunia terhadap Tel Aviv dan memperbesar dendam Hamas kepada orang Yahudi. Tindakan Israel itu, lanjutnya, merupakan gambaran pemerintah Ehud Olmert yang frustrasi. Olmert tampaknya tak bisa melihat solusi lain kecuali menyerbu besar-besaran Jalur Gaza.

Obama Terjebak


Israel jelas sangat licik memanfaatkan momentum transisi pemerintahan AS dari Bush ke Obama. Pemerintah Bush dari Partai Republik secara tradisional memang amat dekat dengan Israel dibandingkan Demokrat.

Namun Israel secara licik berupaya menyeret Bush dari Republik dan Obama dari Demokrat masuk dalam pusaran kepentingan Israel. Tel Aviv sepertinya mematuhi nasihat Obama saat kampanye di atas. Apakah hal itu yang menyebabkan Obama diam seribu bahasa terhadap aksi brutal Israel di Gaza? Haruskah Obama diam karena-seperti dikatakan Brooke Anderson, Juru Bicara Keamanan Nasional Tim Transisi Obama-belum menjadi presiden secara sah?

Obama memang belum dilantik dan Bush baru akan turun setelah pelantikan Obama, 20 Januari mendatang. Mestinya, dalam masa transisi tersebut Bush tidak menyatakan sesuatu yang membuat marah dunia. Kita tahu Bush menyatakan bahwa Israel tidak bersalah dalam penyerangan ke Gaza. Israel hanya mau menghentikan serangan roket Hamas ke wilayahnya. Karena itu, kata Bush, penghentian serangan Israel hanya dimungkinkan jika Hamas menghentikan serangan roketnya.

Pernyataan Bush tersebut jelas merupakan pemutarbalikan fakta. Sekelompok pejuang Hamas meluncurkan roket karena selama masa perdamaian Israel selalu memprovokasi dan menekan kehidupan orang-orang Hamas di Gaza. Pejabat dan aktivis Hamas diancam dan diintimidasi. Israel juga menutup perbatasannya dengan Gaza dan menjegal orang sipil yang dituduh Hamas untuk bekerja di Israel. Dampaknya, ekonomi Gaza pun terpuruk. Penutupan perbatasan Gaza-Israel menimbulkan permasalahan ekonomi serius di Gaza.

Lantas, apa yang salah jika kemudian aktivis Hamas ingin terbebas dari tekanan Israel itu? Bagaimana seharusnya Obama bertindak? Obama memang menghadapi pilihan dilematis. Di satu sisi dia, bagaimana pun, adalah presiden sebuah negeri raksasa yang secara tradisional akan membela Israel. Meski tradisi Demokrat lebih bisa menghardik kejahatan Israel, tapi AS nyaris tak mungkin meninggalkan negeri Yahudi itu.

Di pihak lain, Israel pun menyiasatinya dengan berbagai rupa tindakan licik agar Pemerintahan Obama (Demokrat) masuk dalam pusaran masalahnya. Kenapa Israel melakukan hal seperti itu? Semua ini, barangkali, merupakan cermin rasa takut Israel terhadap kebijakan-kebijakan AS setelah Obama resmi memerintah. Kita tahu, Obama dalam kampanyenya mengusung kalimat Change! Dan salah satu change tersebut pendekatan yang berbeda terhadap Israel dan Islam.Obama yang "mbah-buyut"-nya di Kenya adalah muslim, niscaya punya perspektif yang berbeda dengan Bush dalam melihat persoalan Israel dan Islam.

Obama, misalnya, dalam kampanyenya berjanji akan melakukan dialog dengan Iran dan Suriah, musuh utama Israel; dan siap bertemu muka dengan kedua pimpinan negara tersebut. Ini betul-betul sebuah kebijakan yang radikal, kebijakan yang bertentangan dengan Bush dan kebijakan yang menampar Israel. Obama juga dalam kampanyenya berjanji akan mengambil kebijakan yang bersahabat dengan negara-negara Islam di Timur Tengah dan Teluk.

Ini pun kebijakan yang tak dikehendaki Bush dan Israel. Kebijakan Obama inilah yang tampaknya hendak dirusak Israel dengan penyerbuannya ke Gaza. Untuk sementara ini, melihat dukungan Bush dan diamnya Obama, Israel berhasil memperdayai dan menjebak Obama. Tapi apakah Obama setelah dilantik akan mengikuti permainan Israel atau sebaliknya akan menghardik Israel, kita tunggu. Yang jelas, dunia kini menunggu kebijakan Obama terhadap pembantaian Gaza. Negara-negara Timur Tengah tampaknya tak bisa berbuat banyak melihat kebrutalan Israel di Gaza.

Begitu pula negara-negara Barat. Israel hanya akan menurut kalau Washington menghardiknya. Bush sudah jelas mendukungnya. Harapan dunia kini tertuju pada Obama yang masih diam seribu bahasa. Apakah diamnya Obama tanda setuju terhadap serangan Israel ke Gaza, atau sebaliknya, tanda kemarahan melihat kekejaman Israel? Washington sudah terlalu banyak mengeluarkan biaya, baik secara finansial, politik, maupun sosial untuk melindungi Israel.

Tiap tahun tak kurang USD4 miliar diberikan Washington secara cuma-cuma ke Tel Aviv. Senjata bernilai miliaran dolar juga diberikan AS kepada Israel. Hasilnya, Israel makin brutal dan berani mengacak-acak keputusan PBB serta perasaan masyarakat internasional yang benci perang dan pembantaian manusia. Beranikah Obama menghentikan tindakan brutal Israel di Gaza? Jika berani, berarti Obama benar-benar memenuhi janjinya dan citra AS akan makin baik di mata dunia.

Jika tidak, Obama akan dikutuk masyarakat internasional karena menjilat ludahnya sendiri. Yang terakhir ini jelas akan membahayakan Obama dan AS sendiri seperti diprediksi Jerome R Corsi dalam buku The Obama Nation.

Prediksi Corsi itu akan meleset jika Obama benar-benar melaksanakan janji-janji kampanye, apa pun yang terjadi! Jika Amerika berani mengatur dunia, logikanya Washington akan berani mengatur Israel, negeri yang hanya berpenduduk lima juta jiwa yang hidupnya "menyusu" kepadanya.(*)

Bambang Pranowo
Guru Besar UIN Jakarta

Obama dan Citra AS Pasca-Bush

Kunjungan terakhir Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush ke Irak menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Betapa tidak, saat menghadiri jumpa pers bersama Perdana Menteri Irak Nuri Al-Maliki, Minggu (14/12/2008), wartawan stasiun televisi Al-Baghdadia, Muntazer al-Zaidi, melemparkan sepatunya ke arah kepala Bush sambil berteriak, "Ini ciuman perpisahan dari para janda dan anak yatim, you dog."

Dalam tradisi Arab, melemparkan sepatu ke arah seseorang dianggap perbuatan yang sangat menghina. Meski bagi Bush insiden tersebut dianggap "menarik" dan "pertanda masyarakat bebas", namun reaksi luas terhadap insiden lempar sepatu ini selain menjadi guyonan juga ditanggapi serius. Ada yang mengecam, tetapi banyak pula yang memuji.

Editor harian Al-Quds Al-Arabi di Inggris, Abdel-Bari Atwan, misalnya, menyebut insiden itu sebagai "salam perpisahan yang pantas bagi penjahat perang". Ribuan demonstran menuntut pembebasan Al-Zaidi yang kini menjadi "pahlawan" bagi banyak kelompok masyarakat Arab, terutama korban perang.

Sebagai tanda solidaritas, seorang warga Saudi, misalnya, menawarkan USD10 juta bagi sepatu Al-Zaidi yang juga diusulkan agar ditempatkan dalam museum perjuangan. Antusiasme ketika AS dihina sering kali terjadi.

Hal ini juga yang dirasakan pada aksi teroris 11 September 2001, ketika beberapa pesawat dengan bebasnya menabrak simbol-simbol ekonomi (Menara WTC) dan militer (Pentagon) AS.

Hal itu juga diakui pejabat AS. Baru-baru ini Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice mengatakan,"Saya mengerti sejarah hubungan antara AS dan dunia Arab dinilai memalukan dan kurang perasaan saling menghargai. Itu terjadi bukan sejak pemerintahan Presiden Bush, dan tetap akan begitu meski Presiden Bush tak memimpin." Lebih dari itu ada yang beranggapan bahwa insiden pelemparan sepatu kepada Bush mewakili protes luas masyarakat dunia terhadap arogansi (kebijakan luar negeri) AS selama ini, bukan hanya dilakukan terhadap Irak. ***

Sekitar lima dekade lalu terbit sebuah buku roman berjudul The Ugly American karangan Lederer dan Burdick. Buku yang dengan cepat menjadi bestsellers itu mencoba menerangkan kepada warga AS tentang buruknya citra negerinya di mancanegara.

Penyebabnya, demikian para penulis mengajukan alasan, karena di mana-mana AS menebar pandangan hidup (American way of life) serta dominasi ekonomi tanpa mau peduli bahwa bangsa lain memiliki nilai dan pandangan hidup yang berbeda serta menginginkan kedaulatan ekonomi. Ironisnya, sewaktu kampanye pemilihan presiden untuk masa jabatan yang pertama Bush terdengar bijak ketika berkaca memanfaatkan pesan buku roman tersebut.

Menurutnya, "Bila kita tidak ingin kembali dianggap ?ugly Americans', kita harus berhenti berkata kepada seluruh dunia: Kami melakukan seperti ini, demikian pula yang harus kalian lakukan."Sayangnya setelah terpilih semua tadi seakan terlupakan. Setelah peristiwa 11 September 2001 semua bangsa di dunia dipaksa mempunyai lawan yang sama dengan AS.

Siapa pun, yang tidak setuju pada sikap AS dalam perang melawan teroris otomatis dipandang sebagai lawan. Sepanjang masa pemerintahan Bush sangat kuat kepercayaan bahwa terorisme bisa diselesaikan dengan senjata, bukan lewat upaya mengurangi kemelaratan dan ketertindasan sebagai lahan subur penyemaiannya.

Bagi Walter Mead, AS ditengarai memiliki persepsi yang berbeda tentang perang dibandingkan Eropa (Council on Foreign Relations, 2004). Eropa, belajar dari pengalamannya, mencemaskan spiral kekerasan akibat perang. Sebaliknya AS, yakin perang dapat membawa penyelesaian. Siapa, misalnya, yang mampu mengalahkan Hitler? Mayoritas penduduk AS juga yakin bahwa keamanan pribadi sedikit banyak tergantung pada pemilikan senjata.

Monopoli kekerasan oleh negara seperti yang dianut Eropa dan dipercaya sebagai landasan bagi terbentuknya masyarakat beradab kurang meyakinkan warga AS. ***

Citra buruk AS memang mengental selama dua periode pemerintahan Bush. Pada saat sama AS digambarkan sebagai raksasa yang sedang mempreteli kekuatannya sendiri. Namun, dengan terpilihnya Barrack Husein Obama sebagai presiden yang dilantik kemarin, AS seakan ingin menunjukkan sisi lain dirinya. Aura optimisme dan semangat pembaruan Obama disambut antusias oleh mayoritas warga AS.

Dan sejarah mencatat, setiap kali terserang krisis, AS ternyata berhasil bangkit kembali karena memiliki dinamika yang jarang dimiliki negara lain. Pada saat yang sama kemenangan Obama juga disambut dengan penuh harapan oleh masyarakat dunia sebagai awal era baru bersejarah dalam upaya bersama membangun dunia yang penuh kedamaian.

Lebih dari empat dekade silam Martin Luther King memiliki impian tentang AS yang kelak pria dan perempuannya dinilai berdasarkan karakter mereka, bukan dari warna kulit mereka. Sebuah AS dan dunia yang berkeadilan. "Dunia memerlukan energi ini," ungkap PM Australia Kevin Rudd. Penolakan Obama terhadap ketidakadilan dan tekadnya ke depan untuk membangun keamanan, keadilan, dan dunia yang lebih stabil ditunggu dengan penuh harap.

Beberapa agenda sulit perlu segera diselesaikan. Selain masalah ekonomi AS dan global, Afghanistan, Iran, Guantanamo adalah beberapa persoalan pelik yang perlu diselesaikan. Dari semua itu, boleh jadi Gaza adalah yang paling menantang. Janji Obama untuk selalu mendukung Israel, bisa membuatnya terperangkap dalam sikap yang dianggap tidak berkeadilan.

Kita semua berharap Obama bisa mengatasi "dilema" ini dengan elegan. Sehingga dengan Obama AS akan menjadi negara yang kembali dihormati dan disegani dunia, tanpa memaksakan kehendak dan berahi perang-termasuk mendukung berahi perang Israel- seperti ditunjukkan pemerintahan sebelumnya. (*)

Ivan A Hadar
Analis Ekonomi-Politik Koordinator Nasional TARGET MDGs BAPPENAS-UNDP

dari: news.okezone.com